0
Siapapun tahu, hidup ini tidak selalu mulus, selalu ada masalah, kendala dan tantangan yang mau tidak mau harus kita hadapi. Tidak hanya orang miskin atau orang yang tidak beruntung, orang yang sukses, yang kaya atau yang beruntung sekalipun, pasti pada waktu-waktu tertentu akan dihadapkan pada masalah, kendala dan tantangan.

Lantas, apa yang membuat seseorang berhasil mengatasi masalah dan tantangan itu sementara yang lainnya gagal sehingga frustasi, down, bahkan tak sedikit yang memutuskan bunuh diri atau melakukan tindak kriminil.

Dalam banyak tulisan tentang psikologi, kita mengenal apa yang namanya Intelegence Quotient (IQ), Emosional Qoutient (EQ), dan Spiritual Qoutient (EQ). Ada satu hal lagi yang sebenarnya harus ditumbuhkan pada diri anak-anak kita agar mampu menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam hidup. Itulah yang disebut adversity quotient (AQ) atau kecerdasan menghadapi tantangan sebagai salah satu kecerdasan yang sangat penting dikuasai anak.

Jika anak memiliki daya tahan yang baik dalam menghadapi tantangan, dia akan menjadi pribadi yang pantang menyerah. Seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan menghadapi tantangan yang rendah akan relatif lebih mudah putus asa saat bertemu dengan tantangan di hadapannya. Mereka menganggap masalah yang dihadapinya adalah ancaman besar yang akan menghancurkan hidupnya. Mereka gagal menjadikan tantangan sebagai peluang yang akan melejitkan hidupnya.

Pembentukan AQ ternyata sangat erat kaitannya dengan pola asuh orang tua terhadap anak. Ada beberapa tipe anak sesuai dengan pola asuh dalam kaitan dengan pembentukan AQ ini.


Anak Bola Besi

Anak tipe ini dibesarkan dengan pola asuh yang terlalu keras, sering dihukum tanpa diberi pendampingan dan arahan apa yang harus dilakukan. Ibaratnya seperti memperlakukan bola besi. Anak tipe bola besi ini akan tumbuh menjadi pribadi yang keras bahkan kasar, dan cenderung menghadapi masalah dengan penuh emosi.


Anak Bola Kaca

Anak denga tipe bola kaca adalah anak yang dibesarkan dengan penuh kehati-hatian atau overprotektif, dijaga sedemikian rupa seperti bola kaca, agar jangan sampai menemui kesulitan. Apabila suatu saat menemui kesulitan maka orang tuanyalah yang akan membereskannya. Anak tipe bola kaca ini akan tumbuh menjadi anak yang mudah menyerah dengan berbagai kesulitan hidup. Saat menemui masalah maka mereka akan kesulitan menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.


Anak Bola Karet

Orang tua selayaknya memperlakukan anak seperti bola karet yang fleksibel, terkadang keras untuk memberinya pelajaran, namun tetap diberi pendampingan dan arahan. Namun saat anak berlaku baik kita tidak segan-segan memberikan pujian dan penghargaan. Kita latih anak untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab atas berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya.  Dengan pola asuh ini, anak ini akan menjadi pribadi tangguh dan pantang menyerah. Atau dengan kata lain memiliki kecerdasan menghadapi tantangan yang baik.


Apa indikator anak yang memiliki kecerdasan menghadapi tantangan yang baik?

Pada usia 0 – 6 tahun, anak sudah mampu mengontrol dirinya dengan baik, bisa mengekspresikan keinginannya dengan cara yang baik, tidak dengan menangis atau merengek, dan bisa menerima jika keinginannya tidak selalu dipenuhi.

Pada usia 7 – 10 tahun, anak sudah bisa membangun komitmen dan memelihara kesepakatan yang dibuat.

Pada 11 – 14 tahun, anak dapat berinisiatif untuk melakukan aktivitas yang mereka inginkan dan menanggung segala resiko yang terjadi, anak juga mampu melatih kemandirian dalam bermasyarakat.

Pada usia 15 tahun ke atas, anak sudah mampu mengubah tantangan menjadi peluang, tidak mudah putus asa, berani mengakui dan belajar dari kesalahan dan mampu hidup mandiri. Yanuar Jatnika/Sumber : Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tentang Kecerdasan


Sumber : www.sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Post a Comment

Terima Kasih atas kunjungannya !!!
Silakan meninggalkan komentar, saran dan kritik yang membangun sebagai bahan evaluasi bagi saya. Jangan lupa, berkomentarlah dengan baik dan sopan.
Silakan copy paste artikel yang saya tulis, jangan lupa untuk menyebutkan sumbernya.

 
Top