February 2016


Apa tanggapan Anda terhadap aksi guru honorer K2 yang menuntut diangkat menjadi PNS?
Kebijakan kita sebenarnya mengikuti apa yang digariskan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi. Namun, dari sisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kami melihatnya, ada distribusi guru yang tidak merata antara satu daerah dan lainnya.

Seperti apa penyebaran guru di daerah?
Hal yang perlu dipastikan adalah daerah-daerah mana yang kekurangan guru. Daerah seperti ini perlu dilakukan perekrutan, sementara yang kelebihan tidak perlu ada perekrutan. Itu dilihat dari sisi kebutuhan guru di daerah.

Sementara, dari sisi rasio dan guru di Indonesia juga cukup istimewa dibandingkan Jepang. Di SD negeri rasionya 1:14 dan SMP 1:13. Kemudian rasio SMA 1:14 dan SMK 1:12, sedangkan rasio guru dan siswa di Jepang antara 25 hingga 30.

Bagaimana dengan jumlah guru honorer saat ini? 
Dari jumlahnya sudah luar biasa. Ada lonjakan jumlah guru honorer dari tahun ajaran 1999/2000 hingga 2014/2015. Padahal, jumlah siswa hanya meningkat 17 persen. 

Siapa yang bertanggung jawab atas perekrutan guru honorer?
Kita meminta kepala sekolah, pemerintah daerah, dan kepala yayasan untuk bertanggung jawab. Jangan seenaknya angkat guru honorer, kasihan! Kelihatannya memang kecil kalau dilihat dari aspek satu sekolah. Tapi, kalau ditotal secara keseluruhan, jumlahnya sangat besar.

Lagi pula sekolah itu bukan lembaga yang memiliki wewenang untuk mengangkat guru honorer. Sekarang itu dilimpahkan ke Kemenpan RB. Karena itu, sekolah harus bertanggung jawab. Rekrutmen guru dan nonguru itu berbeda. Untuk menjadi guru harus lolos kompetensi.

Apa solusi jangka pendek terkait guru honorer K2?
Ini harus diatur, tapi bukan hanya hilirnya. Hulunya juga, seperti rekrutmen honorer perlu diatur dan pengaturnya adalah Kemenpan RB. Syarat pengangkatan guru honorer perlu diatur dan selama ini memang belum ada aturannya.

Tahun sebelumnya, sebagian guru honorer sudah diangkat, bagaimana menurut Anda?
Iya, sebetulnya pengangkatan guru honorer sudah dilakukan sebelumnya. Pada 2010 guru honorer kategori satu (K1) sudah diangkat. Sementara, guru honorer K2 juga sudah dilakukan pada 2013. Dari 650 ribu guru honorer K2, terdapat 605 ribu yang mengikuti tes.  

Hasilnya, 166 ribu lulus tes dan sisanya 439 ribu tidak lulus. Nah, yang tidak lulus inilah yang menuntut pengangkatan kembali. Kita melihat, di satu sisi, mereka memang sudah mengabdi cukup lama dalam dunia pendidikan. 

Namun, di satu sisi kita, ada daerah yang memiliki jumlah banyak guru dan ada beberapa daerah kekurangan guru. Untuk menghadapi kekurangan guru di daerah, Kemendikbud sudah memiliki program Guru Garis Depan (GGD). Jika memenuhi syarat, mereka bisa ikut daftar dan dapat diangkat menjadi PNS.

Oleh Wilda Fizriyani, ed: Ferry Kisihandi 

Sebuah postingan teman di facebook tentang kepemimpinan, belajar tentang kepemimpinan dari sebuah kawanan serigala. Lihatlah dan mari kita renungkan sejenak.
3 didepan adalah yang tua dan sakit, mereka berjalan didepan untuk mengatur kecepatan berjalan kelompoknya karena jika mereka di belakang akan tertinggal.
5 dibelakangnya adalah yang terkuat dan terbaik, mereka bertugas untuk melindungi sisi depan bila ada serangan. 
Para 'warga' berada ditengah-tengah, terlindungi dari serangan manapun.
5 dibelakangnya adalah yang terkuat dan terbaik, mereka bertugas untuk melindungi sisi belakang bila ada serangan.
1 yang terakhir adalah sang pemimpin. Dia memastikan 'no one left behind' dan 'all keep stay one on pack'. Dia selalu siaga untuk berlari ke arah manapun untuk memerintahkan 'protect and serve' kepada para 'bodyguard' kelompoknya..
This what its called GOOD LEADERSHIP.. make sure whole pack stay alive and protecting eachother.

Deputi SDM Aparatur Kementerian PANRB Setiawan Wangsaatmaja
JAKARTA - Pemerintah membantah rumor yang beredar di media sosial tentang pembayaran pensiun PNS yang akan dibayarkan secara langsung mulai tahun 2017. "Tidak benar itu. Sampai saat ini belum ada kebijakan seperti itu," ujar Deputi SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Setiawan Wangsaatmaja, melalui pesan WA, Minggu (08/02).

Setiawan menegaskan, pembayaran pensiun PNS masih dilakukan seperti saat ini, yang dibayarkan secara bulanan. Informasi yang menyatakan bahwa pembayaran pensiun dilakukan sekaligus, menurutnya hanya hoax yang tidak berdasar. Karena itu, masyarakat diminta tidak terpengaruh dengan rumor di media sosial yang menyesatkan. "

Setiawan mengimbau masyarakat agar waspada dan lebih jeli dalam menyaring informasi. "Kalau mendapat informasi yang meragukan sebaiknya mengkonfirmasikan ke Kementerian PANRB," imbuhnya. Dikatakan, saat ini pemerintah masih melakukan finalisasi sejumlah Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) pelaksanaan Undang-Undang No. 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). "Salah satunya RPP tentang Manajemen ASN," tutur Iwan.

Iwan menyayangkan adanya pihak yang sengaja mengunggah berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan cenderung menimbulkan keresahan masyarakat. "Kami tidak tahu, apa motivasi pihak pengunggah rumor tersebut. Tetapi rasanya tidak pada tempatnya kalau sekadar iseng," tegasnya menambahkan.

Dalam media sosial itu tertulis seolah-olah Menteri PANRB menyatakan bahwa mulai tahun 2017 pembayaran pensiun akan dilakukan sekaligus. Bahkan pengunggah juga menyertakan foto Menteri Yuddy yang tengah memberikan keterangan kepada pers. Sayangnya tidak dijelaskan, kapan dan di mana perbuataan itu disampaikan. Bahkan disebutkan besaran pensiun mulai dari Rp 500 juta sampai Rp 1,5 Miliar. Di bawah foto juga tercantum infopgri.tk

Kepada pihak yang mengunggah atau menyebarluaskan informasi hoax tersebut diminta utk segera menarik dan atau menghentikan aksinya, karena Kementerian PANRB tidak segan untuk mensomasi bahkan melaporkan tindakan melawan hukum tersebut kepada penegak hukum. (ags/HUMAS MENPANRB)

sumber : http://www.menpan.go.id/berita-terkini/4337-kementerian-panrb-bantah-rumor-tentang-pensiun-pns-dibayar-sekaligus-mulai-2017

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget